Memasang Instalasi Kabel Listrik Rumah? Perhatikan Beberapa Hal Ini!

Daya listrik di dalam hunian adalah hal yang sangat penting untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Supaya kebutuhan energi tetap terpenuhi sekaligus aman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memasang instalasi kabel listrik di dalam rumah.

Pemasangan jalur listrik adalah sesuatu yang dapat membawa resiko keamanan tertentu jika Anda tidak melakukannya dengan benar. Hindari hal yang tidak diinginkan dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Gunakan Bahan Berkualitas Saat Memasang Instalasi Kabel Listrik

Siapkan berbagai bahan seperti kabel, stop kontak, sampai dengan peralatan pemasangan berkualitas. Cara paling mudah untuk menemukan berbagai perkakas ini adalah dengan mengecek logo SNI pada alat yang akan digunakan.

2. Melengkapi Alat Kerja

Pastikan untuk melengkapi peralatan instalasi kabel listrik standar. Beberapa contohnya antara lain obeng plus atau minus, isolasi, tang, palu, test pen, dan lain sebagainya. Berbagai perkakas ini mungkin terlihat sepele namun jika tidak ada maka proses instalasi akan mengalami hambatan.

3. Menggunakan Perlengkapan Kerja yang Aman

Selain perkakas dan bahan yang baik, kelengkapan diri saat bekerja juga harus aman saat memasang instalasi listrik di rumah. Apabila Anda akan mengerjakan instalasi sendiri maka Anda harus mengenakan busana yang aman dan nyaman. Misalnya menggunakan sepatu, baju lengan panjang, pelindung kepala, dan goggles.

4. Mengukur Rumah dan Daya

Persiapan berikutnya adalah Anda harus mengukur rumah yang akan Anda lakukan instalasi. Dengan begitu Anda dapat mengetahui berapa panjang kabel yang diperlukan sampai dengan jenisnya. Sebab ruangan berbeda juga membutuhkan jenis alat yang berbeda pula. Selain itu periksa berapa daya listrik yang ada agar penentuan ukuran mini circuit breaker (MCB) jatuh pada perangkat yang tepat.

5. Tentukan Titik-Titik Pemasangan

Instalasi listrik erat kaitannya dengan posisi saklar, stop kontak, dan lain sebagainya. Buat saluran yang diperlukan ini menggunakan acuan jarak 125cm dari permukaan lantai. Kemudian buat lubang pada dinding sebagai media pemasangan stop kontak dan saklar yang diperlukan.

6. Membuat Jalur Kabel

Bobok tembok sampai ke atas plafon untuk membuat jalur kabel dan pipa. Jalur-jalur ini diperlukan untuk menyebarkan daya listrik ke seluruh ruangan di dalam rumah. Supaya kabel-kabel yang dipasang aman maka Anda dapat memasang pipa PVC untuk melindunginya.

7. Memasang Kotak MCB

Mini Circuit Breaker (MCB) adalah bagian penting di dalam instalasi listrik. Perangkat ini berfungsi untuk mengatur berapa banyak daya yang masuk ke dalam rumah dan membuat hunian Anda aman. Posisinya biasanya ada di dekat pintu utama dengan tujuan agar mudah dicari dan diperiksa secara berkala.

8. Pemasangan Kabel di Jalur Utama

Setelah kotak MCB sudah terpasang maka saatnya untuk memasang kabel ke jalur yang sudah ada. Jenis kabel yang biasa digunakan adalah kabel phase berwarna merah, netral berwarna biru, dan arde berwarna kuning dengan garis warna hijau.

9. Menyambungkan Kabel Ke Berbagai Titik

Setelah kabel sudah dipasang maka Anda sambungkan ke berbagai stop kontak, saklar, sampai MCB yang sudah dipasang. Setelah kabel terpasang dengan baik dan benar tutup jalur-jalur yang masih terbuka. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah menyambungkan kabel dari sumber daya.

Itulah beberapa tips memasang instalasi kabel listrik di rumah. Jika Anda kesulitan melakukannya sendiri, tidak perlu ragu untuk menghubungi tenaga kontraktor dan teknisi berpengalaman.

Kelebihan dan Kekurangan Instalasi Kabel di Bawah Lantai Rumah

Biasanya ketika memasang instalasi listrik Anda akan dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, memasang di atas atau di luar permukaan. Sementara pilihan kedua yaitu instalasi kabel di bawah lantai rumah.

Agar Anda dapat memutuskan dengan lebih baik maka ada baiknya simak apa saja kelebihan dan kekurangan dari posisi kabel yang berada di bawah lantai ini.

 

Kelebihan Instalasi Kabel di Bawah Lantai Rumah

Apa saja keunggulan dan kelebihan yang dapat Anda rasakan apabila kabel berada di bawah permukaan lantai? Berikut diantaranya:

1. Kabel Lebih Terawat

Karena tidak berada di permukaan maka kondisi kabel yang terpasang di bawah lantai rumah akan lebih terlindungi dan awet. Bukan saja aman dari resiko gangguan hewan seperti gigitan tikus atau rayap, tapi juga dari kondisi cuaca.

Sebagaimana yang Anda ketahui, Indonesia beriklim tropis dengan dua musim. Perubahan cuaca yang sering terjadi ini dapat mempengaruhi jaringan listrik. Dengan memasang di bawah lantai maka kelembaban atau panas akan lebih mudah dicegah untuk berdampak buruk pada kabel.

2. Lebih Estetik

Rumah yang menggunakan sistem instalasi kabel di bawah lantai akan terlihat lebih estetik. Tidak akan ada pemandangan kabel yang melintang dan mengganggu pada dinding atau permukaan. Berbagai ornamen atau perabotan yang ada juga akan terlihat lebih indah karena tidak terganggu oleh kabel yang berseliweran.

3. Lebih Ekonomis

Kondisi kabel pada instalasi yang dipasang pada bagian bawah permukaan lantai akan berusia lebih panjang dibandingkan pada pemasangan di atas permukaan. Hal ini disebabkan resiko kerusakan yang lebih kecil dibandingkan dengan kabel di bagian luar. Bahkan ditengarai, instalasi dengan sistem di bawah permukaan mampu melindungi kabel sampai 2 kali lipat! Dengan sendirinya pengeluaran Anda juga akan lebih hemat sampai bertahun-tahun mendatang.

 

Kekurangan Instalasi Kabel di Bawah Lantai Rumah

Selain membahas tentang kelebihannya, Anda juga perlu mengetahui apa saja kekurangan jika kabel dipasang di bawah permukaan. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan secara rinci maka Anda akan lebih mudah memutuskan sistem instalasi listrik seperti apa yang akan Anda pasang pada bangunan rumah.

1. Kurang Fleksibel

Karena posisinya yang ada di bawah permukaan lantai maka kekurangan yang paling mudah dirasakan yaitu sulit dilakukan perubahan. Berbeda dengan kabel yang ada di luar permukaan, tentu jika terjadi kerusakan atau perubahan struktur bangunan maka akan lebih mudah.

Berbeda halnya dengan instalasi listrik yang tertutup maka upaya yang diperlukan akan dua kali lipat. Baik itu untuk membongkar, memindahkan, memasang kembali sampai menutup.

2. Kerusakan Cenderung Permanen

Kekurangan lainnya yang cenderung dialami oleh pemilik rumah dengan instalasi di bawah permukaan adalah kerusakan yang bersifat permanen. Jika terjadi kerusakan maka kemungkinan besar tindakan yang harus dilakukan adalah mengganti kabel dengan yang baru.

3. Biaya Lebih Tinggi

Pertimbangan biaya jika Anda ingin memasang instalasi listrik di bawah permukaan lantai cenderung akan lebih tinggi. Hal ini disebabkan saat proses persiapan sampai dengan pemasangan lebih rumit. Selain itu jumlah pekerjaan yang harus dilakukan juga lebih banyak.

Contohnya saja Anda harus membuka ruang atau membobol bagian tertentu pada lantai sebagai lokasi memasang kabel. Kemudian pemilihan kabel juga harus yang berkualitas tinggi agar tidak perlu membongkar pasang jika ada kerusakan. Ditambah lagi biaya akan tinggi apabila Anda mengubah struktur rumah.

Itulah beberapa kelebihan dan kekurangan dari pemasangan instalasi di bawah permukaan lantai. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda akan memasang listrik di bawah atau di atas lantai?

Apa Bedanya Keramik Lantai dan Keramik Dinding?

Mungkin Anda sering melihat ada keramik yang ditempel di lantai tapi ada juga di tembok. Memangnya apa bedanya keramik lantai dan keramik dinding? Agar pertanyaan itu terjawab dan Anda tidak salah pilih, yuk simak ulasan ini sampai habis!

Perbedaan Keramik Lantai dan Keramik Dinding

Setelah bangunan hampir jadi, ada bagian yang harus dipasang agar hunian lebih aman dan estetik. Salah satunya adalah pemasangan keramik. Akan tetapi di sisi lain ada dua jenis keramik yang paling umum digunakan yaitu lantai dan dinding.

Apa saja yang memisahkan antara kedua jenis keramik tersebut? Ini dia beberapa perbedaan di antara keduanya yang perlu Anda ketahui:

1. Perbedaan Ketahanan

Hal pertama yang perlu Anda ketahui dari perbedaan keramik lantai dan dinding terletak pada daya tahannya. Hal ini dikarenakan keramik dinding tidak mampu menahan beban berat. Apabila dipaksakan dipasang di bagian bawah maka beresiko rusak bahkan pecah. Berbeda dengan keramik lantai yang memang dirancang untuk kuat menopang berat tanpa mengalami kerusakan.

2. Beda Secara Fungsi

Sebagaimana sudah sedikit disinggung pada bagian sebelumnya, keramik lantai dengan keramik dinding berbeda dari segi fungsi. Sesuai dengan namanya, keramik lantai untuk diletakkan pada lantai dan mampu menahan beban berat selama bertahun-tahun. Sementara itu keramik dinding lebih bersifat sebagai elemen dekoratif untuk mempercantik ruangan.

3. Memiliki Permukaan yang Berbeda

Secara umum, keramik lantai dan dinding memiliki permukaan yang berbeda. Keramik untuk dipasang pada dinding cenderung lebih licin dan mengkilap karena memang difungsikan untuk keindahan. Selain itu tidak ada pengaruhnya walaupun licin.

Berbeda dengan keramik lantai yang permukaannya cenderung lebih agak kasar untuk digunakan di bagian dalam rumah. Selain itu ada pilihan jenis keramik lantai yang lebih kasar lagi untuk pemasangan di kamar mandi. Hal ini dimaksudkan agar penghuni aman dan tidak terpeleset jika lantai dalam kondisi basah.

4. Bentuk yang Berbeda

Walaupun tidak ada standarisasi yang ketat dalam perbedaan antara jenis keramik, tapi seringkali keramik lantai berbentuk bujur sangkar. Di sisi lain keramik dinding biasanya memiliki bentuk persegi panjang.

Ukuran yang umum ditemui pada keramik lantai antara lain (dalam cm); 60×60, 50×50, 30×30, 25×25 dan lain sebagainya. Sementara itu ukuran keramik dinding umumnya persegi panjang dengan ukuran (dalam cm); 30×60, 20×60, 25×50, 20×25, dan variasi ukuran lainnya.

5. Ciri Khas Unik

Menurut beberapa sumber dan observasi, pada umumnya ada ciri khas unik yang dapat ditemui antara keramik lantai dan keramik untuk dinding. Bagi Anda yang masih awam di dunia konstruksi dapat memeriksa bagian belakang keramik.

Apabila Anda menemukan bagian bawah atau belakangnya berwarna kemerahan maka itu adalah keramik lantai. Sementara itu jika Anda menemukan bagian belakang yang berwarna putih atau krem maka artinya keramik yang Anda lihat itu adalah yang diperuntukkan pada dinding.

Gunakan Sesuai Jenisnya

Setelah anda mengetahui perbedaan keramik lantai dan keramik dinding maka selanjutnya Anda harus memasang sesuai dengan jenisnya. Memang jika Anda inginkan, keduanya dapat ditukar. Akan tetapi ada resiko tertentu yang dapat Anda hadapi jika Anda menukar kedua jenis keramik ini.

Apabila Anda masih kesulitan dalam menentukan jenis keramik yang paling sesuai jangan ragu untuk berkonsultasi bersama ahli bangunan profesional.

Kenali Faktor Penyebab Kegagalan Konstruksi Bangunan

Di dunia konstruksi dan properti ada beberapa resiko yang perlu diperhatikan. Diantaranya adalah kemungkinan terjadinya kegagalan konstruksi bangunan. Dalam hal ini dapat berupa rumah, gedung, atau struktur lainnya.

Keberhasilan maupun kegagalan yang terjadi dapat berasal dari berbagai faktor.  Apalagi banyak bidang profesi yang terkait di dalam proses pembangunan. Akan tetapi apabila Anda dapat memperhatikan beberapa hal penting maka resiko dapat diminimalisir sekecil mungkin.

 

Penyebab Kegagalan Konstruksi Bangunan yang Umum Terjadi

Ada berbagai penyebab kegagalan konstruksi bangunan yang dapat dialami baik ketika dalam proses maupun saat sudah jadi. Kegagalan dalam hal ini juga dapat ditandai dari terjadinya kerusakan, keropos, atau perubahan bentuk dan derajat kemiringan bangunan.

Agar hal itu tidak terjadi perhatikan beberapa penyebab kegagalan yang umumnya dialami sebagai berikut:

1. Terjadi Kesalahan Saat Tahap Perencanaan

Perencanaan adalah tahap yang paling penting dalam sebuah proyek konstruksi. Seluruh standarisasi baik prosedur, peralatan, syarat kemampuan pekerja, dan hal rinci lainnya harus sudah dibuat sejak perencanaan. Pastikan seluruh bahan baku, sumber daya manusia, dan prosedur pekerjaan sesuai dengan rencana yang sudah dbuat.

Gunakan metode dan penghitungan yang benar-benar tepat agar tidak terjadi kesalahan di kemudian hari. Sebab jika proyek sudah berjalan akan sangat sulit mengembalikan lagi ke tahap awal jika perencanaannya saja sudah salah.

2. Pengawasan yang Tidak Sesuai Standar

Apabila perencanaan sudah disusun dengan sebaik mungkin maka faktor lain yang dapat menyumbangkan kegagalan konstruksi ada pada pengawasannya. Diperlukan seorang atau sekelompok orang yang bertugas mengawasi apakah pekerjaan sudah sesuai dengan rencana yang dibuat.

Pengawas harus memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup agar tidak terjadi kegagalan struktur dan prosedur kerja. Apabila pengawasan dilakukan dengan serampangan maka dapat beresiko besar pada hasil akhir bangunan. Karena itu pihak yang bertugas mengawasi harus sungguh-sungguh memahami seperti apa rencana kerja yang ada.

Pengawas tidak boleh serta merta menolak atau mengiyakan kegiatan pembangunan tertentu sebelum melakukan cek silang dengan rencana yang sudah ada.

3. Kegagalan Akibat Kesalahan Operasional

Dalam tahap pelaksanaan kegagalan struktur dapat terjadi karena beberapa faktor. Misalnya tidak dilakukannya pengujian nilai mutu, salah menerjemahkan spesifikasi, atau bisa juga penggunaan metode atau peralatan yang tidak sesuai.

Akan tetapi faktor yang paling krusial pada tahap ini terletak pada sumber daya manusia yang mengerjakannya.  Para pekerja di sini sangat memiliki peranan penting dan tak dapat diluputkan bila terjadi kerusakan.

Di sisi lain, kesalahan tidak bisa dibebankan seluruhnya kepada pekerja. Karena sebetulnya kesalahan ada pula faktor dari kelalaian pengawasan yang bertumpu pada tiga pihak. Mulai dari konsultan, kontraktor, pengembang atau pemilik bangunan itu sendiri.

4. Kesalahan Pada Penggunaan Bangunan

Kegagalan konstruksi bangunan juga dapat terjadi ketika bangunan sudah jadi. Kesalahan biasanya terjadi karena penggunaan bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan atau standar. Misalnya ada bagian tertentu yang tidak boleh dibebani terlalu berat namun di kemudian hari justru ditambahkan bagian lantai baru di atasnya.

Selain itu alih fungsi bangunan juga dapat berkontribusi pada kegagalan struktur. Konstruksi yang awalnya dibuat untuk rumah sakit misalnya justru diubah menjadi pusat perbelanjaan. Tentu saja perhitungan beban yang diterima bangunaan akan berbeda.

Itulah beberapa faktor penyebab kegagalan konstruksi bangunan yang dapat terjadi. Pastikan Anda bekerjasama dengan tenaga konstruksi profesional mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, sampai dengan pasca konstruksi agar mencegah hal tidak diinginkan pada kemudian hari.

 

Apa Saja Penyebab Kerusakan Beton Bertulang

Beton adalah komponen bangunan yang sering dipilih karena memiliki kekuatan yang mumpuni. Selain itu biayanya juga cukup terjangkau dibandingkan bahan lain dengan kekokohan yang sama. Akan tetapi, kerusakan beton bertulang ada kemungkinan dapat terjadi.

Apa saja faktor yang dapat menjadi penyebab kerusakan beton bertulang? Ada beberapa hal yang dapat menjadi pemicu kerusakan baik ringan sampai dengan berat. Tentu Anda tidak ingin mengalaminya bukan?

Penyebab Kerusakan Beton Bertulang yang Umum Terjadi

Dilansir dari presentasi oleh BPSDM Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI dan sumber lainnya, ada beberapa daftar kerusakan beton beserta penyebabnya.

1. Retak

Keretakan beton dapat terjadi akibat beban berlebih yang diterima oleh beton, benturan, karbonasi, sampai dengan tumbuhan liar yang merambat di badan beton. Semua ini dapat menjadi penyebab komponen bangunan ini menjadi retak.

Sementara itu ada dua jenis keretakan yaitu struktural dan nonstruktural. Bedanya, pada keretakan struktural adalah kondisi yang terjadi terus menerus dan menjalar perlahan. Sementara itu non struktural adalah kerusakan yang tidak menjalar.

2. Dari Sifat Beton Itu Sendiri

Proses awal saat beton dibuat memegang peranan penting terhadap daya tahannya. Karena pada tahapan inilah yang menentukan seperti apa sifat beton itu sendiri. Misalnya campuran bahan pembuatnya seperti pasir, air, semen, dan kerikil yang kurang ideal akan berdampak buruk pada beton.

Sementara itu dapat pula terjadi pengurangan volume saat pengerasan. Peristiwa ini dapat disebabkan oleh air yang ada pada campuran menguap sebagian sehingga mempengaruhi volume dan akhirnya beton akan rusak atau retak.

3. Korosi Akibat Paparan Air Laut

Salah satu kerusakan yang umum terjadi pada beton bertulang adalah korosi atau karat. Akan tetapi penyebab dari karat itu sendiri dapat bermacam-macam. Salah satu faktor paling signifikan adalah paparan terhadap air laut.

Pada Laporan Akhir Kerusakan Beton Bertulang Jembatan Akibat Lingkungan Korosif oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, terdapat pembahasan mengenai pengaruh kimiawi air laut.

Senyawa kimia di dalam air laut dapat berbeda tergantung pada lokasi dan limbah apa saja yang mengkontaminasinya. Senyawa ini memiliki sifat merusak, sehingga apabila beton terpapar pada air laut dapat menyebabkan menjadi lapuk bahkan karat pada tulangan baja.

4. Suhu

Penyebab kerusakan beton bertulang berikutnya adalah suhu. Dalam hal ini adalah suhu campuran di dalam beton ketika terjadi perkerasan. Saat campuran beton mengeras maka akan timbul reaksi dari air dan semen yang meningkat. Apabila suhu pada campuran ini terlalu tinggi maka apabila beton mengeras akan timbul keretakan.

Maka dari itu penting sekali untuk memperhatikan tinggi suhu saat proses pencampuran beton untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

5. Bahan Baku yang Kurang Baik

Kerusakan beton bertulang seringkali terjadi karena material penyusunnya yang kurang berkualitas. Misalnya adanya kandungan agregat yang kurang bersih. Apabila ada kotoran seperti lumpur di dalamnya dapat menyebabkan ikatan mudah terlepas. Apabila hal ini terjadi maka retakan akan mudah muncul saat beton mengering.

6. Proses yang Kurang Baik

Selain dari material pembuatnya, kerusakan beton juga dapat terjadi akibat prosesnya yang kurang baik. Contohnya ketika beton mengeluarkan banyak air saat perkerasan. Jika ini terjadi maka harus dilakukan pengawasan dan perawatan agar pengeluaran air itu tidak berlebihan.

Akan tetapi seringkali perawatan tidak dilakukan yang berakibat timbulnya retakan saat beton terbentuk. Maka dari itu saat tahap pengerasan ini diperlukan SDM yang memahami bagaimana proses pembentukan beton.

Itulah pembahasan singkat mengenai penyebab kerusakan beton bertulang yang kerap terjadi. Pastikan untuk benar-benar memperhatikan mulai dari proses pembentukan, material, sampai pengawasan agar mendapatkan beton berkualitas, kuat, dan tahan lama.

 

Tips Membangun Pondasi Rumah Tahan Gempa

Indonesia khususnya sepanjang Sumatra, Jawa, sampai Bali dikenal memiliki sesar aktif. Oleh karena itu saat membangun rumah Anda harus perhatikan struktur pondasinya. Pondasi rumah tahan gempa adalah kunci sekaligus sebagai kekuatan utama seluruh bangunan. Bagaimana cara membuat bangunan yang mampu menahan gempa?

1. Memilih Lokasi dengan Kondisi Tanah Keras

Jika memungkinkan, pilihlah lokasi rumah yang akan dibangun pada tempat dengan kondisi tanah cukup padat. Hal ini karena tanah berkarakter lunak atau keropos berpotensi bahaya. Walaupun dipaksakan maka harus dipadatkan dahulu.

Solusi terbaik adalah memilih lokasi rumah dengan tanah yang terdiri dari kerikil, tanah konsolidasi, atau pasir lempung. Selain itu usahakan hindari lokasi yang berada di lereng dengan kecuraman ekstrem.

2. Menanam Pondasi dengan Kedalaman yang Cukup

Tips berikutnya untuk membangun pondasi rumah tahan gempa yaitu menggunakan sistem pondasi batu kali. Agar kekuatannya semakin maksimal, letakkan di kedalaman sekitar 45 cm dari permukaan rumah.

Akan tetapi jika Anda akan membangun rumah dua lantai maka masukkan pondasi tersebut lebih dalam lagi tepatnya sekitar 60 cm dari permukaan tanah. Demi menjamin kekuatan yang lebih maksimal lagi, Anda bisa menambahkan pondasi telapak atau sumuran di beberapa lokasi.

3. Material Pondasi Harus Cukup

Dalam membuat pondasi rumah yang mampu menahan gempa maka materialnya harus cukup. Jangan hanya karena ingin menghemat biaya justru membahayakan struktur pondasi. Selain beresiko tidak mampu menahan guncangan, daya tahan dalam kondisi normal pun dapat berkurang kekuatannya.

Gunakan bahan dasar pondasi sesuai standar agar meraih kepadatan ideal. Gunakan pasir halus, kerikil, serta semen dengan tingkat presisi yang baik. Dengan begitu Anda dapat mencegah terbentuknya retakan kecil yang berpotensi menjadi besar jika  material tidak baik.

4. Bangunan Harus Simetris

Ketika merancang rumah dan sebelum menanam pondasi pastikan supaya rumah memiliki tingkat simetris yang baik. Kondisi ini dapat membuat kekokohan rumah semakin meningkat.

Apabila bangunan Anda simetris maka tidak akan ada bagian yang berat sebelah. Dengan begitu ketika terjadi goncangan maka akan lebih aman. Sebaiknya pada tahap renovasi atau pembangunan Anda menghubungi ahli atau orang yang memiliki kecakapan dalam merancang hunian dengan tingkat presisi tinggi.

5. Ketinggian Bangunan Mempengaruhi Daya Tahan Terhadap Gempa

Selain bentuk bangunan yang simetris, tinggi rumah juga mempengaruhi daya tahan dari gempa. Semakin tinggi hunian Anda maka beban yang harus dipikul oleh pondasi akan semakin besar pula.

Logika sederhananya, semakin tinggi rumah Anda maka pondasi juga harus semakin kuat. Dalam hal ini maka kembali lagi ke tahap perencanaan yang baik untuk mendapatkan komposisi pondasi yang sesuai dengan kebutuhan.

6. Membuat Balok untuk Mengikat Pondasi

Setelah Anda mendapatkan pondasi batu, waktunya untuk membuat balok pengikat atau sloof. Fungsi dari sloof ini untuk menyebarkan beban ke seluruh badan pondasi. Beban yang tersebar merata ini akan membuat resiko rumah retak ketika terjadi guncangan akan lebih kecil.

Agar sloof tetap kokoh di bagian atas pondasi ikatlah badan sloof dengan angker sepanjang ½ m. Dengan begitu pondasi batu kali akan semakin meningkat kekuatannya karena kehadiran balok pengikat tersebut.

7. Mengikat Pondasi, Sloof, dan Kolom

Agar kekokohan pondasi semakin baik Anda perlu mengikatkan seluruh bagian. Mulai dari pondasi, sloof , dan kolom jadi satu. Pastikan seluruh bagian yang terikat dapat terintegrasi dengan baik sehingga saat terjadi gempa, seluruh getaran dari dalam tanah dapat disebar merata.

Fungsi dari ikatan yang baik ini memang untuk menyebarkan getaran ke seluruh bagian rumah. Jadi tidak ada satu bagian rumah yang harus menahan seluruh tekanan. Jika itu terjadi maka kemungkinan besar akan mendapatkan beban berlebih yang beresiko retak bahkan roboh.

Membangun pondasi rumah tahan gempa adalah hal yang sangat penting untuk Anda lakukan. Bangunlah hunian terbaik yang aman untuk menaungi seluruh keluarga dan orang yang Anda cintai.

 

Dinding Retak? Yuk Cari Tahu Apa Saja Penyebabnya!

Bayangkan ketika baru saja menempati rumah atau sedang bersantai tiba-tiba Anda menemukan dinding retak. Tentu akan membuat jengkel sekaligus khawatir. Memang tidak akan ada bangunan yang mampu 100% tanpa cacat atau kerusakan kecil. Akan tetapi tidak ada salahnya mencari tahu apa penyebab keretakan itu.

Penyebab Umum Dinding Retak

Dinding yang retak mungkin tidak akan memberikan dampak signifikan. Di sisi lain jika dibiarkan maka berpotensi menyebabkan rembes karena air hujan yang menyusup ke sela-sela dinding. Perlahan dinding akan lembab, cat mengelupas, dan jika parah dapat memperburuk struktur tembok.

Mari cari tahu beberapa penyebab dinding retak di bawah ini:

1. Kualitas Material Dinding yang Kurang Baik

Pemilihan material saat membangun rumah memegang peranan penting. Ada banyak sekali jenis bahan  baku yang dapat digunakan untuk membuat tembok, namun pada prinsipnya kualitas menentukan daya tahannya.

Gunakan batu bata berkualitas, juga acian serta plester yang baik agar mampu menutupi seluruh permukaan dinding semaksimal mungkin. Pastikan juga seluruh takaran acian dan plester mencapai kombinasi yang pas. Kemudian hindari untuk mengaplikasikan acian pada dinding sebelum kondisi plester benar-benar mengering.

2. Lokasi Dinding

Faktor lokasi juga dapat menyebabkan keretakan dinding. Misalnya bangunan berada di daerah bekas persawahan. Lokasi tersebut dapat beresiko membuat kerusakan dinding karena tanah bekas rawa atau sawah termasuk gembur sehingga kurang stabil.

Agar resiko keretakan dapat diminimalisir, bangunlah tembok dan bangunan Anda di atas tanah kering dan padat. Dengan begitu akan mengurangi resiko retak dan kerusakan lainnya.

3. Bahan yang Berbeda

Dinding yang sudah diaplikasikan plester dan acian masih dapat mengalami kerusakan karena perbedaan bahan. Ketika ada bahan berbeda yang saling bertemu dapat menjadi penyebab retak pada dinding.

Berikut beberapa contoh perbedaan bahan yang dimaksud:

  • Bata dengan kayu
  • Beton dengan bata
  • Plesteran pada pipa di dalam dinding

Keretakan  juga dapat terjadi disebabkan ketidakmampuan semen untuk melekatkan bahan tertentu seperti plastik atau kayu. Oleh karena itu ada baiknya Anda menambahkan lapisan lain seperti semen alkasit. Tambahan elemen ini dapat memperkuat daya rekat semen sekaligus memperkecil resiko retak.

4. Beban Terlalu Berat

Dinding adalah bagian rumah yang menopang bagian dasar dengan atap atau bagian lain pada bangunan. Oleh sebab itu beban dapat menjadi terlalu besar bagi dinding tertentu karena harus menahan tekanan bak dari atas maupun bawah.

Hal ini disebabkan karena kolom atau tiang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Karena beban itu tidak ditopang oleh tiang maka dengan sendirinya dinding harus ikut menahan tekanan yang ada.

5. Gempa

Tidak dapat dipungkiri Indonesia dilewati oleh banyak lempengan dan sesar aktif. Hampir setiap hari terjadi gempa yang mungkin tidak Anda sadari namun guncangannya mampu membuat dinding rumah bergoyang.

Gempa dalam skala rendah sekalipun tetap berpotensi membuat dinding menjadi retak. Agar kerusakan dinding akibat gempa tidak terjadi sebaiknya sejak awal Anda menggunakan bahan pondasi yang kokoh dan baik sehingga dapat mencegah keretakan.

Anda dapat mencegah dinding retak dengan mengetahui penyebab umum yang memberikan resiko kerusakan pada bagian tertentu pada rumah. Baik itu dari lokasi bangunan, kualitas material, pertemuan bahan berbeda, sampai dengan gempa bumi.

Mengetahui penyebab kerusakan dinding akan membantu Anda dalam membuat rancangan rumah dan hunian yang memiliki daya tahan kuat dan kokoh dalam waktu lama.

 

 

Tips Memilih Keramik Tangga yang Aman

Bagian yang menghubungkan antara lantai satu dengan lantai lain pada rumah harus mendapatkan perhatian khusus. Salah satunya Anda harus menggunakan keramik tangga yang aman agar seluruh anggota keluarga selalu terlindungi dan aman saat menggunakannya.

Faktor yang paling krusial pada bagian tangga adalah memastikan tidak licin. Karena itu faktor pemilihan keramik menjadi sangat penting. Jangan sampai Anda salah pilih jenis permukaan lantai tangga karena akan beresiko pada keselamatan penghuni.

 

Mencari Keramik Tangga yang Aman

Dari sekian banyak keramik yang ada di pasaran, manakah sebaiknya Anda pilih? Berikut beberapa tips yang bisa Anda perhatikan.

1. Melapisi Lantai Tangga Menggunakan Karpet

Apabila Anda sudah terlanjur memasang keramik pada tangga dan menemukan jika bahan yang Anda pilih kurang aman, Anda masih bisa merekayasanya. Cara yang paling mudah adalah dengan melapisi permukaan lantai tangga menggunakan karpet. Dengan begitu Anda tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membongkar dan memasang lantai kembali.

Selain itu debu juga tidak mudah terlihat pada permukaan karpet. Pastikan Anda sudah melakukan pengukuran dan memilih bahan karpet yang tidak licin saat diinjak. Nantinya permukaan karpet pada tangga ini akan memberikan sensasi nyaman dan empuk pada kaki. Akan tetapi perhatikan bahwa cara ini hanya bisa diaplikasikan pada tangga yang ada di dalam ruangan.

2. Menggunakan Lantai Tangga Dari Kayu

Terkadang penggunaan keramik biasa saja belumlah cukup untuk bagian tangga. Ingat, akan ada banyak kegiatan dan frekuensi lalu-lalang anggota keluarga Anda melewati bagian ini.

Agar aktivitas seisi penghuni rumah selalu aman, Anda dapat menggunakan lantai tangga yang dilapisi kayu. Memang dampak pada modal Anda akan lebih dalam karena lebih mahal. Tetapi itu adalah harga yang layak untuk dikeluarkan demi keselamatan semua orang yang Anda cintai bukan?

Bahan ini juga memiliki kelebihan seperti kesan alami, minimalis, sekaligus mewah. Selain itu kayu sangat aman untuk dilewati oleh semua orang terutama anak-anak.

3. Keramik dengan Permukaan Kasar

Cara termudah untuk menentukan keramik tangga adalah dengan cara memegang permukaannya. Pilihlah apapun brand keramik lantai yang Anda temukan dengan permukaan kasar untuk dipasang pada tangga.

Ada banyak pilihan motif dan warna yang dapat disesuaikan dengan gaya desain ruangan dan rumah Anda. Anda dapat memilih berbagai jenis motif yang tersedia di pasaran mulai dari yang sederhana, sampai dengan bentuk tertentu seperti gambar abstrak.

4. Memadukan Warna Berbeda

Agar keamanan pada tangga di rumah Anda semakin baik Anda juga dapat menggunakan warna berbeda pada keramik yang Anda pasang. Cara ini efektif karena perbedaan warna pada lantai tangga akan membuat pengguna lebih aware dan mudah membedakan antara satu anak tangga dengan anak tangga berikutnya.

Perpaduan warna ini selain memberikan keamanan lebih juga mampu memberikan mood tertentu pada ruangan Anda. Misalnya penggunaan lantai berwarna cerah dapat membuat ruangan Anda terlihat ceria dan luas.

5. Lantai yang Terbuat dari Marmer

Cara berikutnya untuk memilih keramik tangga yaitu dengan menggunakan bahan marmer. Material ini memiliki permukaan yang kasar sehingga sudah dipastikan aman diaplikasikan pada tangga. Baik orang dewasa sampai anak-anak akan melenggang dengan mudah dan terhindar dari resiko saat naik dan turun.

Kekuatan marmer juga sudah terkenal ke seantero dunia sehingga Anda tidak perlu melakukan banyak perawatan. Begitu juga kesan yang diberikan marmer mampu membuat rumah Anda semakin terlihat mewah.

Itulah beberapa tips yang bisa Anda lakukan saat memilih keramik tangga. Kira-kira bahan keramik lantai apa yang akan Anda jadikan tangga di rumah Anda?